Artikel

Pilihan Terbaik Untuk Anak Kita oleh Drs Ishak Syairozi M.Pdi

      Anak adalah amanah Allah bagi setiap orangtua. Kehidupan, pertumbuhan dan perkembangannya menjadi dewasa sangat erat hubungannya dengan dasar pendidikan yang di alaminya. Bagaimana kemudian anak, bergantung kepada peranan orangtuanya.
Jauh sebelum konsep pendidikan tentang konsep tabula rasa (bahwa anak terlahir seperti kertas putih), Islam telah lama mengenalkan bahwa anak “Yuuladu ‘ala Al Fitrah” (anak terlahir dalam keadaan fitrah). Melalui landasan inilah peranan orangtua dituntut, apa warna yang akan dituliskan pada anak dan generasinya? torehan pada masa perkembangan dan pertumbuhan akan sangat melekat bagi anak pada  masa dewasa kelak. Sementara pendidikan atau lembaga sekolah sebagai Agent of Change, merupakan sarana bagaimana pertumbuhan dan perkembangan tersebut dapat tercapai dengan baik, sehingga dapat melekat dan sekaligus dapat menghantarkan anak pada pertumbuhan sesuai dengan yang diinginkan.

Dalam kehidupan masyarakat modern, sadar atau tidak, kita orangtua sering kali begitu berbangga hati ketika sekali waktu menanyakan dan coba untuk mendengar dari cita-cita anak kita. Orangtua bertanya: “Nak, kalau sudah besar mau jadi apa?” Mereka ada yang menjawab; “Mau menjadi dokter, menjadi insinyur, presiden …” dan sebagainya. Kita pun bangga mendengarnya, dan berkata: “ini baru anak Bapak, anak Ibu!”. Di sekolah demikian pula, Ibu guru berkata: “kamu hebat anak-anak!”.
Ungkapan anak Bapak atau anak hebat tersebut, jika sebagai penghargaan dan penyemangat anak didik, tentu menjadi bagian dari pendidikan, dan amat pantas dilakukan oleh orangtua dan pendidik. Namun demikian, hal ini tidaklah lalu difahami hanya sebagai Just aim oriented (akhir dari tujuan) pendidikan itu sendiri, sehingga disebut berhasil.

Gambaran inilah yang terjadi dalam masyarakat kita, bahwa pendidikan tertumpu pada brain development (perkembangan otak). Pertumbuhan daya pikir atau nalar, penguasaan skill, dan  berkemampuan pada bidang-bidang eksakta menjadi sebuah trend kebanggaan orangtua di zaman ini. Akibanya, dari pola pemahaman ini timbul bahwa pelajaran-pelajaran di sekolah yang dianggap penting oleh orangtua bersifat parsial, seperti pada eksakta atau yang diujikan Nasional. Bahkan, untuk pelajaran-pelajaran tersebut, tidak sedikit orangtua yang rela merogoh kocek tambahan yang cukup fantastis. Misalnya, untuk kursus Bahasa Inggris, masuk bimbingan belajar, UMPTN, dan lain sebagainya.

 Geliat pola pemahaman tersebut menjadi trend setter pendidikan anak di zaman sekarang. Sehingga yang dibangun dalam dunia pendidikan adalah tuntutan pasar dalam masyarakat, agar menjadi Link and Match (ada hubungan dan cocok dengan tuntutan zaman), katanya. Sehingga pendidikan yang dikejar adalah mutu intelektualitas, skill, dan dunia kerja. Memang hal ini tidaklah salah, apalagi telah mampu menelurkan orang-orang pintar di bidangnya. Sayangnya, kitapun yang telah dewasa terpola dengan terbesit: “Nanti mau kerja di mana ya!”. Ini artinya, kita sama memahami bahwa tujuan akhir pendidikan ini adalah to be what ? sebagai ending sebuah keberhasilan pendidikan. Baiklah mungkin ini kita terima, karena itulah nyatanya dalam kehidupan di masyarakat.

 Lebih lanjut, dalam perkembangannya keberhasilan pendidikan dengan kecerdasan otak, yang melahirkan orang-orang pintar dalam bidangnya. Terkorelasinya pendidikan dengan dunia kerja menjadi sebuah simbol keberhasilan pendidikan. Namun, di tengah berlangsungnya faham tersebut, Kini mencuat apa yang disebut dengan perlunya “Revolusi mental” dalam kehidupan masyarkat. Tentu ini mengundang banyak pertanyaan: “Ada apa dengan mental orang-orang pintar saat ini?”.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentulah bukan kapasitas penulis. Jelasnya, dari fenomena ini tentu ada sesuatu yang hilang, kalau tidak tertinggal dari dasar pemahaman masyarakat tentang urgensi pendidikan. Cobalah kita kembali mengingat tulisan sebelumnya, sebegitu pelajaran-pelajaran eksakta dan esensial didongkrak oleh orangtua dengan kursus-kursus dan bimbingan belajar. Sekalipun notabenenya, pelajaran tersebut telah menempati porsi jam pelajaran yang lebih di sekolah. Namun, yang terlewatkan oleh kebanyakan orangtua adalah perhatian pendidikan agama. Pemahaman tentang urgensi pendidikan agama tidak berbanding lurus dengan pendidikan eksak dan esensial seperti tersebut.

Memang benar urutan pendidikan Agama menempati urutan pertama pada raport anak-anak kita, dibanding dengan mata pelajaran lainnya. Tetapi coba kita perhatikan, apakah ada kursus-kursus dan bimbingan pelajaran agama yang sebanding dengan chose seperti yang dikeluarkan untuk kursus pelajaran eksak. Di lain sisi, sungguh guru agama dan guru ngaji telah menjadi label “Amal dan Ikhlas”. Di sinipun banyak yang salah memahami, sehingga kebanyakan masyarakat untuk pelajaran agama – tidak seperti menghargai pelajaran eksak. Belajar agama dan mengaji kelihatan hanya sebagai pelengkap, lebih khawatir kalau anak tidak bisa bahasa Indonesia, matematika, sains. Dan biasa saja kalau anak belum bisa baca Qur’an dan mampu beribadah sholat. Walhasil, anak mengaji pun tidak diantar orangtua dan disuruh ikut temanya berangkat ke guru ngaji. Na’if rasanya, jika orangtua menginginkan anaknya cerdas dan bermental baik, sementara mereka memarginalkan perhatiannya terhadap pengajaran agama dan akhlak karimah.

Pola dikotomi inilah yang terjadi dalam pendidikan dan pemahaman masyarakat, yaitu terjadi pemisahan antara pengajaran agama dan eksakta. Maka bisa jadi, pendidikan yang tertumpu pada pengajaran eksak dan kemampuan kecerdasan otak pada gilirannya akan terjadi ketimpangan pada praktisnya, seperti terjadi “dekadensi moral” dan atau saat ini apa yang disebut perlu ada “revolusi mental”. Caverisasi pendidikan agama terhadap kecerdasan otak dalam pertumbuhan dan perkembangannya adalah keniscayaan, dan diperlukan integritas keduanya dalam pendidikan.

 Urgensi pendidikan dan pemilihan sekolah yang cerdas akan menentukan hidup anak-anak pada masanya, maka sekolah apa yang sekiranya dapat menyelamatkan anak dan generasi bangsa ini? Jawabanya tentu, sekolah yang tidak berorientasi pada hasil kecerdasan otak anak. Sebab, di zaman modern seperti sekarang ini, dengan berbagai fasilitas dan media pendidikan yang tersedia dan canggih menjadikan orang-orang pintar itu mudah. Tetapi kadang lupa, bagaimana menjadikannya orang-orang benar?

 Berangkat dari sini, jenjang pendidikan yang paling penting untuk menamamkan integritas pengajaran agama dan eksak adalah Pendidikan Dasar atau Sekolah Dasar. Pengalaman ini akan memberikan daya rekam dan lebih melekat dalam pertumbuhan dan perkembangan siswa. Selain sebagai efisiensi waktu dimana pengajaran agama dan pendidikan umum didapati oleh siswa dalam satu wadah, tidak seperti dahulu Sekolah Dasar dan Madrasah.

Pendidikan terpadu inilah yang menjadi solusi pendidikan di abad modern untuk memupuk Generasi cerdas yang berakhlak karimah. Keterpaduan kurikulum, antara kurikulum Nasional dan Madrasah sebagaimana Pesantren pada tingkatannya, akan menjadikan anak mendapatkan pendidikan yang berilmu amaliyah dan berakhlak karimah.

 
By: Drs. Ishak Syairozi, M.PdI

Artikel Lainnya