Artikel

Bukakan Pintumu hai Raja oleh DR14


Pada suatu hari dari tahun-tahun yang indah, Abu Jaafar Al Manshur, khalifah kedua bani Abbas, mengerjakan hajinya ke Makkah almukaraamah, maka turunlah baginda di Darun Nadwah, bekas balairung tempat musyawarah penghulu2 Quraisy di  jaman Jahiliyah.
Setiap waktu sahur, pergantian siang dan malam keluarlah baginda thawaf mengelilingi ka'bah.Tiba-tiba sewaktu thawaf terdengarlah olehnya satu rintihan do'a : "O, Allahku, kepadaMulah aku mengadu, Kejahatan telah timbul, kesesatan telah berpengaruh atas bumimu yang makmur, perjalanan menuju kebenaran telah terbatas, dibatasi oleh tamak dan lobanya orang-orang yang berkuasa."
Terkejutlah Al Manshur mendengar suara itu, maka melangkahlah baginda secepatnya ke Darun Nadwah itu.

Setelah sampai disana disuruhnyalah pengawal ke Ka'bah mencari orang yang berdoa itu.Jika ketemu bawalah lekas kehadapan baginda orang tersebut.Pengawal itu pun pergi bergegas menjalankan perintah.Sesampainya di Ka'bah bertemulah dengan orang yang dicari itu.Ia sedang duduk bertekun membaca bermacam-macam do'a di rukun Yamani.Penjaga itu pun menegurnya : " Amiral Mu'minin memanggilmu, bersiaplah engkau".

Orang itupun berkemas, sedikit pun tak berubah roman mukanya, pergi menghadap raja.
Baru saja dia berdiri dihadapan baginda, baginda pun berkata : "Engkau kah orang yang mengucapkan do'a tadi ? Dalam do'amu aku mendengar engkau mengadukan kejahatan dan kesesatan telah memenuhi bumi Allah yang makmur dan kebenaran telah terbatas dari ahlinya, lantaran loba dan tamak para penguasa.Sungguh gelisah aku mendengar do'amu itu.Terangkanlah siapa yang engkau maksud dalam do'amu itu ?

"Ya Amiral Mu'minin", jawab orang itu " Ada pun manusia yang telah dimasuki perasaaan loba dan tamak, sehingga kebenaran dengan ahlinya telah terbatas, sehingga kelalaian telah rata diatas bumi Allah yang makmur, orang yang kumaksudkan ialah ...Engkau Sendiri."
Terkejut sekali Al Manshur mendengar perkataan yang terus terang itu, tanpa tedeng aling-aling, sehingga ia berkata : " Kenapa engkau menuduhku telah dimasuki perasaan loba dan tamak, padahal perak yang berkilat dan emas yang berkilau tersusun rapih didepan pintuku dan raja-raja di permukaan bumi tunduk takluk pada perintahku ?

Subhanallah, siapa lagi makhluq yang setamak engkau ? Cobalah engkau pikirkan ! Allah menyerahkan ke tangan engaku segala urusan kaum muslimin, berat dan ringan mesti engkau pikul, harta bendanya jadi tanggungan engkau, padahal segala penyerahan itu engkau abaikan, engkau hanya asyik mengumpul-ngumpulkan harta benda itu saja.Kemudian engaku batasi pula diri engkau dengan rakyat, dengan batas yang bernama dinding.Engkau dirikan tembok yang tinggi dan kuat, dimuka pintu masuk engkau suruh penjaga bediri dengan senjata lengkap. Engkau beri pula perintah supaya yang dibolehkan masuk hanya orang -orang tertentu, yang telah engkau pilih.Padahal mereka menggunakan atas nama engkau berbuat aniaya atas rakyat banyak.Tidak pernah engkau perintahkan supaya segala pengaduan disampaikan kepada engkau sendiri, orang kelaparan, mati karena tak makan, orang telanjang , mengggigil karena kedinginan.

Yang Engkau dengar atau yang disampaikan orang kepadamu hanya yang indah-indah saja.Ribuan rakyat mengeluh kesakitan, engkau tak tahu.Padahal mereka semuanya berhak atas hartamu yang terkumpul didalam baitul mal itu.Setelah wakil2 mu itu melihat dengan mata kepalanya sendiri, begitu banyak fakir miskin yang tak terurus, maka sebagian besar harta benda yang mereka peras dari rakyat, mereka tahan untuk diri mereka sendiri, dengan alasan ; Jika raja kita telah berkhianat kepada Allah dan Rasulnya, apakah salahnya kita berkhianat pula kepada Raja ? Sebab itu maka wakil-wakil itu telah berserikat dengan engkau menguasai negeri, sedang engkau tak tahu.

Kalau ada seorang rakyat yang mengadukan dirinya teraniaya  dan datang kedalam istana  dengan susah payah, lebih dahulu diperiksa dengan teliti. apakah orang yang menganiaya itu orang yang dekat pada raja.Kalau terjadi demikian maka perkara itu akan hilang begitu saja. Kalau yang mengadukan itu tidak putus asa dan dia tetap berikhtiar juga hendak menghadap raja langsung, alamat dirinya akan lebih sengsara sebab akan dipukul, disepak dan dirotan dihadapan khalayak ramai dan engkau diam saja, diam pertanda setuju.

Padahal ya Amiral Mu'minin ! Khalifah - kahlifah bani Umayah yang engkau gantikan atau engkau rampas kekuasaan dari mereka, yang sekarang menjadi timbulan segala caci cela, kalau ada orang yang mengadu kepada mereka karena teraniaya, waktu itu juga perkaranya diurus dengan baik dan memuaskan.

Aku sendiri, dahulu pernah melawat ke negeri Cina, disana kusaksikan sendiri maharajanya seorang yang telah amat tua dan tidak bertenaga lagi.Tetapi akalnya masih cerdas dan tangkas.Pada suatu ketika maharaja itu ditimpa penyakit telingannya, hingga tuli, satu pun tiada suara yang dapat didengarnya.Pada suatu hari menangislah baginda dihadapan wazir2nya.Maka wazir2 itu pun bertanyalah : " Apa sebabnya anak raja langit berdukacita berurai air mata, kesusahan apa agaknya yang menimpa tuan, kami sekalian bersedia menjunjung titah, bagaimana pun beratnya". Demikianlah sembah mereka dengan isyarat.
Maharaja Cina itu pun menjawab : " Bukanlah aku menangis karena sakit yang kuderita, semuanya adalah takdir yang telah ditentukan.Aku menangis karena tidak lagi bisa mendengar rintihan dan ratap rakyatku yang datang mengadu, karena mereka dianiaya.Tetapi sungguhpun telingaku tidak mendengar lagi, akan tetapi mataku masih bisa melihat, hatiku masih tetap merasa dan akal ku masih tetap cerdas.Sebab itu mulai hari ini sampaikanlah perintahku kepada khalayak rakyatku: "Tidak seorang pun diijinkan memakai pakaian berwarna merah, kecuali orang yang teraniaya dan yang datang hendak mengadu, supaya aku bisa dengan mudah mengurus perkaranya.

Semenjak itu tidaklah ada orang Cina yang memakai baju berwarna merah, kecuali orang yang hendak mengadukan masalahnya kepada raja karena merasa teraniaya.
Sehingga Maharaja Cina itupun senantiasa keluar mengendarai gajah, setiap pagi dan petang, melihat-lihat barangkali ada rakyatnya yang memakai baju berwarna merah.
Demikianlah seorang raja yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, keburukan agamanya terhapus oleh ketinggian budi rajanya.Bagaimanakah engkau sendiri ya Amiral Mu'minin, Amir dari segala orang yang beriman, yang memerintah dalam negeri islam dan engkau turunan rasulullah, bertali darah dengan junjungan kita.

Ingatlah jika engkau loba, tamak  pengumpul harta, biasanya tidak terlepas dari tiga alasan : Pertama ialah, tiap2 raja hendak tampak kuat, mempunyai pertahanan harta benda, Kalau itu alasanmu, janganlah engkau lupakan bagaimana nasib raja2 yang lebih dahulu.Seketika datang pukulan Allah, maka seluruh hartanya, tentaranya, bendaharanya, tidaklah menolong sedikit pun jua.Kalau engkau katakan bahwa harta itu untuk diwariskan kepada anak-anak kelak, maka tidaklah harta akan menolong anak2 itu sedikitpun, bahkan kadang2 anak2 itu mati juga dalam kemiskinan dan kesengsaraan.Kalau engkau katakan harta itu dimaksudkan untuk mencapai maksud yang lebih tinggi dari keridhaan Allah, maka ketahuilah bahwa keridhaan Allah itu tidaklah dicapai dengan jalan menumpuk harta, melainkan dengan beramal shaleh.Renungkanlah, apakah baru amal shaleh yang telah engkau kerjakan ?
Orang itu pun berkata, Hai Amirul Mu'minin, bukakanlah mulai hari ini pintu istana mu lebar-lebar, buanglah hijab / dinding yang berlebihan itu, belalah orang yang teraniaya, ambilah harta yang halal dan bagikan kepada rakyat yang berhak menerima secara adil.Kalau sudah demikian, saya tanggung orang2 yang telah lari itu akan kembali lagi.

"Segala perkataanmu itu akan kukerjakan, insya Allah" jawab raja.
Maka pertemuan itupun berakhir, karena suara azan menyerukan waktu shubuh telah datang, membangunkan makhluq yang tengah tidur.Orang itupun mohon diri hendak mendirikan shalat dan Al Manshur pun hendak mengerjakan shalat pula.

Setelah selesai shalat shubuh, Al Manshur memerintahkan pengawalnya mencari orang itu kembali, supaya dia dapat memberikan apa2 sebagai adat kelaziman khalifah2 jaman itu, memberi sedikit tanda hidup, anugerah hadiyah yang sepadan.
Pengawal itupun pergilah, ditemukannya orang yang sedang bertekun tadi di rukun yamani, maka disampaikanlah perintah raja kepadanya, orang itupun menjawab : " Saya tak mau kembali lagi kepadanya, sekali-kali tidak akan"
Kalau engkau tak mau, sayalah kelak yang akan dihukum, bahkan mungkin saya akan dipancung.

"Tak usah engkau takut dipancung, bermohonlah kepada Allah dan berdo'alah dengan sekhusyunya, insya Allah hati raja yang tinggi akan jatuh iba kepadamu.
Pengawal itu pun kembali kepada raja, lalu dikatakan apa yang telah terjadi, akhirnya Al Manshur menyuruh pembantunya untuk menyerahkan hadiah 1000 dinar untuk orang tersebut supaya lebih tekun ibadahnya, akan tetapi setelah dicari oleh pembantunya orang tersebut telah pergi entah kemana.Nasihat orang tersebut kepada raja rupanya hanya semata-mata karena mengharap ridha Allah.Hingga Imam Al Ghazaly, Ibnul Balia dan pengarang "Hayaatul Hayawan al Kubraa" tak mendapatkan keterangan lebih lanjut siapakah gerangan orang itu.
(HAMKA)


Artikel Lainnya