Artikel

Mari Berbagi oleh Mustofa DR14

Allah Berfirman:

Artinya, Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

Artinya, dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.
Allah SWT menjadikan Iman sebagai landasan untuk melakukan segala aktifitas, baik berupa perkataan dan  perbuatan dalam berinteraksi dengan sesama manusia bahkan dengan semua makhluk ciptaan Nya. Iman yang tertanam dalam diri manusia yang terealisasi dalam perbuatan Ibadah dalam rangka penguatan hubungan dengan khalik maupun penguatan hubungan dengan sesama, akan menjadi kebaikan bagi manusia dan akan melahirkan kesuksesan dalam hidupnya.   
Diantara penguatan hubungan dengan sesama dengan tujuan untuk memperkuat persaudaraan yaitu adanya kepeldulian dan berbagi dengan orang lain, walaupun sekecil apapun itu akan sangat bermanfaat bagi diri kita terlebih lagi bagi orang lain. Kecil menurut pandangan kita, namun bisa berarti besar bagi orang lain. Berbuat baik terlebih dahulu kepada orang lain memang terasa sulit, namun bila bisa melakukannya beruntunglah! karena kebaikan itu pasti akan kembali kepada kita dengan jumlah yang berlipat ganda.

Sebuah al kisah ilustrasi yang bisa kita ambil hikmahnya tentang indahnya berbagi dengan orang lain;

Suatu ketika ada seseorang yang diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, "Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan Surga itu". Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.

Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi. Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil.

Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.

Tuhan berkata, "Kamu sudah melihat NERAKA"

Lalu mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama dengan ruangan di pintu pertama. Perbedaannya, di dalam ruangan ini orang-orang tersebut berbadan sehat dan berisi dan mereka sangat bergembira di keliling meja tersebut.

Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata "Apa yang terjadi ? kenapa di ruangan yang kondisinya sama ini mereka terlihat lebih bergembira ?"

Tuhan kemudian menjelaskan, "Sangat sederhana, yang dibutuhkan hanyalah satu sifat baik"

"Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas menyuapi orang lain yang dapat dicapainya dengan sendok bergagang panjang, sedangkan di ruangan lain orang-orang yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan dirinya sendiri"
Semangat ajaran Al Islam untuk peduli kepada yang lain, melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta`awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orang-orang yang hidupnya berkecukupan dan orang-orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan dan  selaras dengan fitrah yang tertanam dalam hatinya bahwa kita semua adalah keluarga Allah SWT / اللهِ عِيَالُ كُلُّكُمْ.

Orang yang membutuhkan bantuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis Qurthubi:
Artinya: "Aku semalam bermimpi melihat kejadian yang menakjubkan. Aku melihat sebagian dari ummatku sedang melindungi wajahnya dari sengatan nyala api neraka. Kemudian datanglah shadaqah-nya menjadi pelindung dirinya dari api neraka."
Ajaran Islam yang memiliki karakteristik  syumuliah (mencakup segala aspek kehidupan), dapat ditemukan dalam relaitas kehidupan Rasulullah SAW dengan Para Sahabat-Sahabatnya, diantaranya jiwa semangat peduli, memberi kemaslahatan, membantu antar sesama manusia dan makhluk di alam semesta, antara lain:
Pertama, Membantu orang lain adalah sadaqah (pahala) dan bahkan yang tidak mampu memberikan bantuan kepada orang lain, menahan diri dari keburukan yang berdampak kepada dirinya dan orang lain, juga dinilai sebagai kebaikan dan sadaqah.
Dari Abu Zar, yaitu Jundub bin Junadah r.a., katanya: "Saya berkata: Ya
Rasulullah, amalan manakah yang lebih utama - banyak fadhilahnya?" Beliau s.a.w.
menjawab: "Yaitu beriman kepada Allah dan berjihad untuk membela agamaNya."
Saya bertanya lagi: "Hamba sahaya manakah yang lebih utama?" Beliau s.a.w. menjawab: "Yaitu yang dipandang terindah bagi pemiliknya serta yang termahal harganya."
Saya bertanya pula: "Jikalau saya tidak dapat mengerjakan itu -yakni berjihad fisabilillah ataupun memerdekakan hamba sahaya yang mahal harganya, maka apakah yang dapat saya lakukan?" Beliau s.a.w. bersabda: "Berilah pertolongan kepada seseorang pekerja (shani') - atau engkau mengerjakan sesuatu kepada seseorang yang kurang pandai bekerja -(akhraq)." Saya berkata pula: "Ya Rasulullah, bukankah Tuan telah mengetahui, jikalau saya ini lemah sekali dalam sebagian pekerjaan?" Beliau s.a.w. bersabda:
"Tahanlah keburukanmu, jangan sampai mengenai orang banyak, amalan sedemikian
itupun merupakan sedekah daripadamu untuk dirimu sendiri - yakni tidak mengganggu
orang lain." (Muttafaq 'alaih)

Hadits ini sejalan dengan makna hadits diatas, Dari Abu Musa r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Setiap orang Islam itu harus bersedekah." Abu Musa bertanya: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak menemukan sesuatu untuk disedekahkan?" Beliau menjawab: "Kalau tidak ada hendaklah ia bekerja dengan kedua tangannya, kemudian ia dapat memberikan kemanfaatan kepada dirinya sendiri, kemudian bersedekah." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian?" Beliau menjawab: "Hendaklah ia memberikan pertolongan kepada orang yang menghajatkan bantuan." Ia bertanya lagi:  "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak dapat berbuat demikian?" Beliau menjawab:
"Hendaklah ia memerintah dengan kebaikan atau kebagusan." Ia bertanya lagi: "Tahukah Tuan, bagaimanakah jikalau ia tidak kuasa berbuat demikian." Beliau menjawab: "Hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka yang sedemikian itupun sebagai sedekah yang diberikan olehnya." (Muttafaq 'alaih)

Kedua, menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan dan memotong sebuah pohon yang mengganggu lalu lintas serta memperindahnya adalah sadaqah, mendapatkan ampunan dan nanti mereka bersuka ria di surga.
 Dari Abu Zar juga, katanya: "Nabi s.a.w. bersabda: "Ditunjukkanlah padaku amalan-amalan ummatku, yang baik dan yang buruk. Maka saya mengetahuinya dalam golongan amalan-amalan yang baik adalah menyingkirkan sesuatu yang berbahaya dari jalan, sedang dari golongan amalan-amalan yang buruk ialah dahak yang dilakukan di dalam masjid dan tidak ditanam."(Riwayat Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. lagi dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Niscayalah saya telah melihat seseorang yang bersuka-ria dalam syurga dengan sebab
memotong sebuah pohon dari tengah jalanan yang pohon itu membuat kesusahan bagi kaum Muslimin." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan demikian: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki berjalan melalui sebuah cabang pohon yang melintang di tengah jalanan, kemudian ia berkata: "Demi Allah, niscayalah pohon ini hendak kulenyapkan dari jalanan kaum Muslimin supaya ia tidak membuat kesukaran pada mereka itu." Orang tersebut lalu dimasukkan dalam syurga. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim pula disebutkan demikian: "Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang berjalan di jalanan. Ia menemukan cabang dari sebuah pohon berduri pada jalanan itu, kemudian cabang berduri itu disingkirkan olehnya. Allah lalu berterima kasih kepada orang tadi dan memberikan pengampunan kepadanya."
Ketiga, Menanam kebaikan akan memanen hasilnya sampai hari kiamat.
Dari Jabir r.a. pula, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Tiada seorang muslimpun yang menanam suatu tanaman, melainkan apa saja yang
dapat dimakan dari hasil tanamannya itu, maka itu adalah sebagai sedekah baginya, dan apa saja yang tercuri daripadanya, itupun sebagai sedekah baginya. Dan tidak pula dikurangi oleh seseorang lain, melainkan itupun sebagai sedekah baginya." (Riwayat Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan: "Maka tidaklah seseorang muslim
itu menanam sesuatu tanaman, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia ataupun binatang, ataupun burung, kecuali semuanya itu adalah sebagai sedekah baginya sampai hari kiamat."
Dalam riwayat Imam Muslim yang lain lagi disebutkan: "Tidaklah seseorang muslim itu menanam sesuatu tanaman, tidak pula ia menanam sesuatu tumbuh-tumbuhan, kemudian dari hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, ataupun oleh binatang ataupun oleh apa saja, melainkan itu adalah sebagai sedekah baginya."
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan Hadis-hadis semuanya itu dari riwayat Anas r.a.

Keampat, Dilarang menyakiti orang lain dan bersyukur atas nikmat yang diterima.
Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Hai kaum muslimat - wanita Islam, janganlah seseorang tetangga itu menghinakan
tetangganya, sekalipun yang diberikan oleh tetangganya itu hanya berupa kaki kambing."(Muttafaq 'alaih)

Kelima, Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi s.a.w. sabdanya:
"Barangsiapa yang melapangkan suatu kesusahan dari beberapa kesusahan seseorang Mu'min di dunia, maka Allah akan melapangkan untuknya suatu kesusahan dari berbagai kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberikan kemudahan kepada seseorang yang kesukaran, maka Allah akan memberikan kemudahan padanya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi cela seseorang Muslim, maka Allah akan menutupi celanya di dunia dan di akhirat. Allah itu selalu memberikan pertolongan kepada hambaNya, selama hamba itu suka memberikan pertolongan kepada saudaranya. Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari suatu ilmu pengetahuan, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju kesyurga.Tiadalah sesuatu kaumitu berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah rumah Allah, untuk membacakan kitab Allah - al-Quran - juga mentadarusnya antara mereka itu – membaca secara bergantian, melainkan turunlah kepada mereka ketenangan hati, ditutupi oleh kerahmatan Tuhan, juga diliputi oleh para malaikat dan Allah menyebutkan mereka itu di kalangan makhluk yang ada di sisinya. Barangsiapa yang diperlambatkan oleh amalan-nya sendiri, maka ia tidak akan dipercepatkan oleh keturunan darahnya – yakni bahwa kebahagiaan itu tergantung pada amalan seseorang dan bukan karena darah ningrat atau keturunan." (Riwayat Muslim)

Hadits ini memberikan perhatian sangat luar biasa tentang kepedulian dengan sesama;

a.    Memudahkan dalam memberi pertolongan, baik yang berupa ilmu pengetahuan, harta, derajat, nasihat atau menunjukkannya ke arah kebaikan. Juga pertolongan yang berupa tenaga atau doa yang ditujukan agar saudaranya seagama itu tercapai maksudnya.
b.    Orang  yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, misalnya pergi ke sekolah, pondok, pesantren dan lain-lain,
c.    Orang yang berkumpul lalu belajar yang tak dimengerti atau mengajarkan yang sudah diketahui, orang tersebut akan mendapat ketenangan hati, dilimpahkan rahmat Allah, dikerumuni malaikat karena gembira melihat orang yang sedemikian itu dan oleh Allah disebut-sebut akan dimasukkan dalam golongan hamba Nya yang sangat taqarrub (mendekat) dan sangat taat padaNya, seperti para malaikat dan sekalian Nabi, sebab bangga melihat perbuatan hamba Nya yang baik itu dan mengagumkan sebutannya.

Semoga bermaanfaat, Wallahua’lam bis showab

Artikel Lainnya