Artikel

Negri Saba oleh Nurfitri Hadi, M.A


Seringkali kita mendengar ungkapan Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yang artinya Negeri yang subur makmur, sejahtera aman sentausa dan mendapat ampunan dari Allah, penggambaran ini pertama kali ditujukan untuk negeri Saba yang subur makmur dan sejahtera yang kisahnya tertera di dalam al Qur'an dalam surat Saba serta keterangan beberapa hadits.
Masa kejayaan negeri Saba' dimulai pada 1850 tahun sebelum kelahiran nabi kita Muhammad shalallahu alaihi wasallam atau sekitar 1300 tahun sebelum masehi.Masa yang cukup jauh dari masa sekarang, bila tidak dikisahkan didalam al qur'an kita tidak akan pernah tahu keberadaan negeri Saba' tersebut.
Saba' sendiri menunjukkan pada beberapa sebutan diantaranya Raja-raja Saba atau klan Saba, sama halnya dengan sebutan Fir'aun yang merupakan raja-raja juga, yang berkibar di wilayah Mesir, sebutan lainnya Kaum Saba, Wilayah Saba itu sendiri yang terletak di Yaman.

Dalam hadis Farwah bin Musaik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh seorang laki-laki,
“Ya Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang Saba’ ?
Apakah Saba’ itu?
Apakah ia adalah nama sebuah tempat ataukah nama dari seorang wanita ?”
Beliau shalallahu a'laihi wasallam pun menjawab,

لَيْسَ بِأَرْضٍ وَلَا امْرَأَةٍ وَلَكِنَّهُ رَجُلٌ وَلَدَ عَشْرَةً مِنَ العَرَبِ، فَتَيَامَنَ سِتَّةٌ وَتَشَاءَمَ أَرْبَعَةٌ

“Dia bukanlah nama suatu tempat dan bukan pula nama wanita, tetapi ia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepuluh orang anak laki-laki dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” (HR. Abu Dawud, no. 3988 dan Tirmidzi, no. 3222).

Dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ada tambahan nama-nama dari anak Saba, “Adapun yang menempati wilayah Yaman, mereka adalah: Madzhij, Kindah, al-Azd, al-Asy’ariyun, Anmar, dan Himyar.
Dan yang menempati wilayah Syam adalah Lakhm, Judzam, Amilah, dan Ghassan (HR. Ahmad, no. 2898).

Para sejarawan juga mencatat bahwa nama asli dari Saba’ adalah Abdu asy-Syams. Dan sebagaimana kita ketahui, nama-nama kabilah Arab terambil dari nama anak-anak Saba’.

Sekarang kita paparkan bagaimana kurnia kemakmuran negeri Saba' sebelum mereka hancur karena kufur dan tidak bersyukur akhirnya menjadi hancur lebur.
Berbanding terbalik dengan kerajaan negeri Daud as. beserta keluarganya yang karena bersyukur dan beramal shaleh atas kurnia dari Allah swt menjadi sejahtera hingga berlanjut kepada raja Sulaiman as.Kisah ini menjadi ibrah bagi kita semua untuk senantiasa bersyukur atas segala karunia yang kita dapatkan.Demikian pula negeri kita, Indonesia, yang disebut sebagai jamrud katulistiwa, tongkat yang tancapkan ke tanah akan menjadi pohon, sebagai gambaran kesuburannya, hendaknya kita merenungi apa yang terjadi pada kaum Saba’ agar kita tidak mengulang kisah kehancuran mereka.

Kerajaan Saba’ terkenal dengan hasil alamnya yang melimpah, orang-orang pun banyak yang berhijrah dan bermitra dengan mereka. Perekonomian mereka begitu menggeliat hidup dan sangat dinamis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman mengabarkan tentang kemakmuran kaum Saba’

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)
Menurut al-Qusyairi, penyebutan dua kebun tersebut tidak berarti bahwa di Saba’ kala itu hanya terdapat dua kebun itu saja, tapi maksud dari dua kebun itu adalah kebun-kebun yang berada di sebelah kanan dan kiri lembah atau dianatara gunung tersebut. Kebun-kebun di Ma’rib saat itu sangat banyak dan memiliki tanaman yang bervariasi (Fathul Qadir, 4: 422).
Kedua kebun tersebut sangat luas dan diapit oleh dua gunung di wilayah Ma’rib. Tanahnya pun sangat subur, menghasilkan berbagai macam buah dan sayuran serta udaranya sangat segar, bersih, tidak lembab dan asin, sehingga tidak ada keadaan yang menyebabkan rakyatnya mudah sakit.Saking bersihnya udara di negeri Saba' andaikan ada seseorang yang menempel kutu di pakaiannya kemudian masuk ke negeri Saba' maka kutu tersebut akan segera mati.
Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid rahimahumallah mengisahkan juga, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan yang berjatuhan dari atas pohon yang berbuah lebat tanpa harus memanjat pohon dan memetik buah tersebut.
Abdurrahman bin Zaid menambahkan, di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, kutu, kalajengking, dan ular (Tafsir ath-Thabari, 20: 376-377).Karena biasanya hewan-hewan tersebut hidup di tempat yang berudara lembab, tempat yang kotor dan berbau busuk.
Yang membuat tanah di Ma’rib menjadi subur adalah bendungan Ma’rib atau juga dikenal dengan nama bendungan ‘Arim, bendungan yang panjangnya 620m, lebar 60m, dan tinggi 16m ini mendistribusikan airnya ke ladang-ladang penduduk dan juga menjadi sumber air di wilayah Ma’rib.

Literatur sejarah menyebutkan bahwa yang membangun bendungan ini adalah Raja Saba’ bin Yasyjub sedangkan buku-buku tafsir mencatumkan nama Ratu Bilqis yang merupakan putri dari seorang raja Saba' sebagai pemrakarsa dibangunnya bendungan ini. Ratu Bilqis berinisiatif mendirikan bendungan tersebut lantaran sering terjadi perebutan air di danau sumber air, di antara rakyatnya yang mengakibatkan mereka saling bertikai bahkan saling bunuh-membunuh.

Dengan dibangunnya bendungan ini, orang-orang Saba’ tidak perlu lagi khawatir akan kehabisan air dan memperbutkan sumber air di danau, karena bendungan tersebut sudah cukup menjamin kebutuhan air mereka, mengairi kebun-kebun dan memberi minum ternak mereka.Bahkan bila ada yang melancong ke negeri mereka, mereka akan menyambutnya dengan baik, tetamu bisa makan dan minum di rumah mana saja yang disinggahi dan beristirahat tanpa dipungut biaya, karena di setiap rumah sudah disediakan tempat khusus tamu yang singgah untuk menginap. Mereka akan dengan senang hati menjamu tamunya bahkan bila pelancong hendak kembali, mereka pun memberikan oleh-oleh untuk bekal di perjalanan, serta di perjalanan di wilayah Saba' baik siang mau pun malam mereka akan aman dari gangguan orang jahat.

to be continue kisah kehancuran mereka, insya Allah.Semoga menjadi ibrah, salam.
(sumber dari ceramah DR. Dedeng Rosyidin dan tulisan Nurfitri Hadi, M.A.)

Artikel Lainnya