Artikel

Es Batu Oleh Ustadz Ahmad Fauzi Buchori

Sebongkah es beku memiliki kekerasan yg cukup untuk menyakiti bila terlempar mengenai kepala kita.

Bongkahan es itu di sebut juga es batu, bukan hanya karena bentuknya tetapi juga karena kekerasannya.

Bila kita menggenggamnya erat², maka tangan kita tak akan merasa nyaman, melainkan justru kedinginan menusuk yg kita rasakan.

Saat kita masukkan bongkahan es batu itu ke dalam gelas berisi air, maka es batu itu tidak saja mencair, tapi juga mampu mendinginkan air di dalam gelas itu.

Kita pun -bisa- memiliki sifat es batu berupa "kepala batu", begitu tinggi harga diri seakan merasa paling unggul & mulia dibanding yg lain tanpa menyadari "kepala batu" dapat menyakiti orang-orang di sekitar kita.

Semakin kita mempertahankan "kepala batu", sebenarnya hanya membuat semakin berat & besar beban yg harus dipikul akibat kekerasan kita sendiri.

Seandainya "kepala batu" itu dapat kita cairkan seperti es batu yg perlahan tapi pasti mencair di dalam gelas air, maka kita akan memperoleh suasana yg sejuk & memberi manfaat bagi banyak orang di sekitar kita.

√ Es batu itu adalah "konsep diri" kita yg seringkali memupuk ego bukannya Kerendahan Hati.

√ Menumpuk gengsi demi harga diri yg se-olah² sejati padahal semu.

√ Menempatkan martabat se-tinggi²nya dengan pengertian itulah Tujuan Hidup Mulia ... walau sesungguhnya justru itulah penyebab kehancuran.

Air di gelas adalah Kerendahan Hati yg mampu mencairkan kebekuan, meluruhkan kesombongan, menyejukkan bara angkara dan pada akhirnya Menumbuhkan Kebijaksanaan.

Namun TETAPLAH WASPADA ... karena ...
AIR YG MEMBEKU AKAN MENJADI ES BATU.

TETAPLAH RENDAH HATI

#mawasdiri

Artikel Lainnya